Dengar kata ‘Resesi’ emang bikin auto-lemes. Tapi analis bilang, resesi global kali ini cuma ‘tipis-tipis’. Nah, buat investor muda, ini bukan waktunya panik cut loss. Ini waktunya ‘meracik’ ulang portofolio!
Zaman now, naruh duit di Deposito doang itu sama aja ‘bunuh diri’ pelan-pelan, kemakan inflasi. Tapi, main ‘hajar kanan’ di saham doang juga berisiko tinggi di musim galau kayak gini. Terus gimana?
‘The Holy Trinity’ Portofolio Anti-Resesi
Jurusnya adalah: Diversifikasi. Jangan taruh semua telur di satu keranjang. Bagi aset kamu ke tiga ‘keranjang’ wajib:
- Saham (Blue Chip): Buat growth jangka panjang. Pilih perusahaan besar yang udah teruji.
- Obligasi (SBN): Ini ‘rem’ kamu. Aman, return pasti (kupon), dan dijamin negara.
- Aset Aman (Emas/Reksadana Pasar Uang): Ini ‘bensin cadangan’ kamu. Gampang cair pas lagi butuh cash darurat.
Ekonomi emang lagi nggak pasti, tapi portofolio kita harus tetap ‘pasti’. Jangan jadi investor ‘FOMO’ yang ikut-ikutan. Jadilah investor cerdas yang siap ‘panen’ pas badai reda.
Intisari:
- Resesi global yang ‘mild’ (tipis) adalah sinyal untuk meninjau ulang portofolio investasi.
- Menabung di Deposito saja tidak cukup karena tergerus inflasi.
- Diversifikasi adalah kunci: jangan letakkan semua dana di satu instrumen.
- Kombinasi ideal untuk investor muda: Saham Blue Chip, Obligasi (SBN), dan Aset Aman (Emas/RDPU).

