Indonesia dan Malaysia sedang mengalami pertumbuhan pesat dalam pembangunan pusat data (Data Center), didorong oleh permintaan komputasi cloud dan layanan digital yang melonjak di Asia Tenggara. Namun, ekspansi ini menimbulkan tantangan serius terkait konsumsi energi besar dan kebutuhan untuk mengadopsi praktik yang ramah lingkungan (green computing).
Pusat data adalah konsumen energi yang intensif, membutuhkan listrik dalam jumlah besar untuk operasi server dan pendinginan. Di kawasan tropis seperti Indonesia dan Malaysia, tantangan pendinginan sangat besar, yang meningkatkan biaya dan jejak karbon operasional.
Sebagai respons, pengembang pusat data mulai mengadopsi desain yang lebih berkelanjutan. Ini termasuk penggunaan pendingin cair (liquid cooling) untuk server, memanfaatkan energi terbarukan (surya atau hidro) untuk daya, dan implementasi sistem manajemen energi berbasis AI untuk mengoptimalkan efisiensi.
Pemerintah kedua negara juga mendorong sertifikasi Green Data Center dan menawarkan insentif bagi perusahaan yang berkomitmen pada praktik berkelanjutan. Hal ini bertujuan untuk menyeimbangkan pertumbuhan infrastruktur digital dengan komitmen iklim nasional mereka.
Pertumbuhan pasar pusat data di Indonesia dan Malaysia menuntut keseimbangan antara inovasi teknologi dan tanggung jawab lingkungan. Membangun infrastruktur digital yang berkelanjutan adalah kunci untuk memastikan bahwa ekonomi digital regional dapat tumbuh tanpa merugikan lingkungan.

