Gelombang robot dan otomatisasi yang melanda sektor manufaktur, logistik, dan layanan di Asia menimbulkan pertanyaan mendesak mengenai masa depan jutaan pekerja di kawasan ini. Negara-negara dengan basis manufaktur besar, seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Thailand, adalah yang paling cepat mengadopsi robot industri untuk meningkatkan efisiensi dan mengatasi biaya tenaga kerja yang meningkat.
Meskipun otomatisasi meningkatkan produktivitas dan kualitas produk, terutama di industri presisi, dampaknya pada lapangan kerja yang membutuhkan keterampilan rendah hingga menengah sangat signifikan. Studi memprediksi bahwa jutaan pekerjaan rutin di pabrik dan sektor jasa akan digantikan oleh robot dalam dekade mendatang, menciptakan kebutuhan mendesak untuk reskilling (pelatihan ulang) dan upskilling (peningkatan keterampilan) tenaga kerja.
Beberapa pemerintah Asia merespons ancaman ini dengan program pendidikan teknologi dan vokasi yang didanai negara, berfokus pada pelatihan dalam bidang robotika, pemrograman, dan pemeliharaan mesin otomatis. Tujuannya adalah mentransformasi tenaga kerja dari operator mesin menjadi pengawas dan pemrogram teknologi.
Transformasi ini menegaskan bahwa otomatisasi di Asia adalah keniscayaan, bukan pilihan. Tantangan bagi pemerintah adalah mengelola transisi ini secara adil, memastikan bahwa manfaat peningkatan produktivitas dinikmati secara luas dan bahwa pekerja yang tergusur memiliki jalur yang jelas menuju peran baru di era digital.
Gelombang otomatisasi yang cepat di Asia, terutama sektor manufaktur, mengancam jutaan pekerjaan rutin, mendorong pemerintah untuk fokus pada program reskilling dan upskilling tenaga kerja menuju peran yang berorientasi pada teknologi.
